Pagi itu, Kantor
Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara masih tampak sepi. Hanya terlihat
aktifitas rutin pegawai perpustakaan. Pada pagi seperti inilah, biasanya Nur
Rokhim sudah berkunjung ke ‘Jendela Dunia’ yang berada di Jl. Hos Cokroaminoto
No.10 Jepara. Dia langsung naik ke lantai dua, menuju ruangan berukuran 15 m².
Di ruangan tersebut jari -jari tangannya mulai aktif bergerak. Ya, di ruangan
yang bernama ‘Pojok Internet’ pria lajang ini memulai aktifitas pagi.
Lulusan SMKN 1
Jepara ini bukan pegawai di kantor perpustakaan. Ia hanya memanfaatkan
fasilitas internet gratis yang disediakan untuk masyarakat umum. Perpustakaan
memang memiliki fasilitas pelayanan internet gratis dan fasilitas wi fi / hotspot (free acces) di Perpustakaan Umum dan Warung Baca di Aloon–aloon Jepara. Sebelum ke kantor untuk
tanda tangan kehadiran, Rokhim menyempatkan datang ke perpustakaan. Ia perlu
mengecek facebook miliknya untuk bekal kerja setiap hari.
Rokhim bekerja
sebagai tenaga pemasaran di salah satu diler sepeda motor di Jepara. Pemuda
asal Desa Platar, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, ini mulai menjadi tenaga
pemasaran sepeda motor sejak tahun 2010. Seperti kebanyakan pemasaran lainnya,
awal menekuni pekerjaan tersebut dilakukan dengan cara konvensional. Seperti
misalnya menyebar brosur produk dari satu desa ke desa lain. Bahkan pernah
suatu kali dirinya naik sepeda motor sambil menyebar percuma brosur di jalan
yang ia lalui.
Strategi pemasaran
mulai berubah semenjak satu setengah tahun lalu. Ia mulai menggunakan media
sosial untuk promosi sepeda motor. Dirinya dapat cara berpromosi lewat media
sosial dari sesama marketing. Pemuda kelahiran 11 November, 32 tahun silam
inipun tertarik dan membuat akun facebook kali pertama di ‘Pojok Internet’
milik perpustakaan. Sebelumnya Rokhim juga sudah rutin berkunjung ke
perpustakaan tapi hanya untuk sekedar membaca buku dan surat kabar.
Kali pertama di
facebook dirinya bergabung dengan grup Lapak Jepara. Seiring berjalannya waktu,
Rokhim membuat sendiri dua grup di facebook. Grup itu bernama Lapak Online
Jepara dan Buka Lapak Jepara. Bahkan grup Lapak Online Jepara sudah memilik
anggota mencapai 26.662 orang. Dan pada awal tahun ini membuat web pribadi di www.jayajepara.com.
Rokhim mengaku dari
sekian banyak tenaga pemasaran sepeda motor, hanya sedikit yang memanfaatkan
media sosial. Hal itu mungkin karena butuh banyak biaya untuk online. Mereka
lebih memilih datang ke warung internet (warnet). Berbeda dengan dirinya yang
memanfaatkan fasilitas internet gratis di ‘Pojok Internet’ yang memilik 5 unit
komputer.
Banyak perubahan
yang dirasakan Rokhim setelah menggunakan fasilitas internet gratis di
perpustakaan. Diantaranya waktu lebih efisien. Jika dulu lebih sering promosi
ke lapangan tanpa tujuan jelas, kini hanya menindaklanjuti calon pembeli yang
bertemu di media sosial. Calon pembeli bisa menghubungi Rokhim secara langsung di
media sosial tanpa harus bertatap muka. Bertatap muka dengan calon pembeli
hanya pada saat tindak lanjut pembelian. Bahkan ada yang jadi membeli tanpa
harus ketemu lebih dulu. Pembayaran dititipkan pada sopir diler yang mengantar
sepeda motor.
Di sisi lain,
target penjualan pun ikut meningkat. Jika sebelumnya Rokhim hanya menjual 6
unit sepeda motor sesuai target minimal, sekarang bisa menjual 9 sampai 15
motor tiap bulan. Saat ini jika dihitung, 90 persen penjualan sepeda motor didapatkan
dari hasil media sosial. Ada suka duka memasarkan dengan media sosial. Banyak
pembeli yang sebelumnya tidak dia kenal. Pembeli tipe ini biasanya yang
lokasinya jauh dari diler motor. Pengalaman pahit juga pernah dirasakan saat
ada yang minta janjian ketemu. Akan tetapi ketika ditunggu tidak nongol. Namun
penipuan yang mengakibatkan kerugian materi belum pernah ia dapatkan.
Kini waktu Rokhim
bisa leluasa digunakan untuk mengunjungi perpustakaan untuk cek facebook dan
sekadar membaca surat kabat yang letaknya di sisi ‘Pojok Internet’. Dengan
memelototi layar komputer dan sedikit menggerakkan jari, calon pembeli sudah
bisa didapatkan. Target penjualan pun ikut meningkat. (Sochib)
*Cerita ini mendapat apresiasi pada Lomba Bercerita Impact Perpustakaan Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup, diselenggarakan Perpuseru di Bali, Pertengahan Maret lalu.


No comments:
Post a Comment